Showing posts with label Cerita Saya. Show all posts
Showing posts with label Cerita Saya. Show all posts

Saturday, April 15, 2017

Satu Tahun Yang Lalu

Terakhir gue nulis di blog ini, hampir setahun yang lalu. Ini gila sih, menurut gue.

Kadang emang gue ngerasa kangen banget buat nulis, main musik atau bikin sesuatu lagi kaya yang dulu-dulu. Padahal tiap harinya ada banyak banget hal yang bikin gue resah dan bisa jadi materi buat gue nulis. Tapi entah kenapa, gue males banget buat mulainya.

Males?! Iya, males! Karena memang itu alesannya. Bukan karena sok sibuk atau gimana, karena ya memang males. Udah gitu aja.

Padahal kegiatan gue juga emang lagi gak sibuk-sibuk banget kaya tahun-tahun sebelumnya. Harusnya gue punya banyak waktu buat ngerjain sesuatu, entah nulis atau bikin sesuatu lainnya yang seru baik sendiri maupun kolektif.

Kegiatan gue belakangan ini paling ya standar aja gitu sibuknya. Kerja pagi pulang sore — kadang pulang malem biar sekalian makan di luar dan atau memang lagi ada jadwal ketemuan sama klien diluar kerjaan asli gue. Pulang, masuk kamar langsung baca-baca forum sambil Twitteran plus Spotify-an atau nonton Youtube sambil ketiduran. Bangun pagi, begitu terus setiap harinya.

Friday, May 20, 2016

Cinta Bersemi di Ruang Gelap

Di tengah hiruk pikuknya kota metropolitan dengan segudang aktifitasnya, kita perlu asupan hiburan yang seimbang agar kehidupan tetap stabil. Film adalah salah satu bentuk hiburan yang paling sederhana. Tak perlu berburu tiket promo, apalagi repot-repot Twitpict gambar bagpack lengkap dengan caption, "Packing!"

Jaman sekarang, film bisa dinikmati kapan saja dan dimanapun. Secara tukang kaset DVD bajakan sudah merajalela bak pedagang tahu bulat. Udah ada kaset DVD bajakan tapi males buat beli karena sayang uangnya buat bayar kostan, di internet juga udah banyak banget website yang nyediain link untuk download film. Kalau download aja masih males, streaming juga bisa kok. Nah, kalo streaming masih males juga, nyungsep aja bareng temen lo yang suka berenang di pantai pake celana jeans panjang.

Tapi, menurut gue pribadi, nonton film yang paling syahdu itu ya di bioskop. Karena lo bakal ngerasain esensi menonton film dengan seutuhnya di sana. Selain layarnya yang besar, audionya pun bakal ngemanjain kuping. Tanpa ada kepulan asap rokok, abu rokok yang berserakan di karpet dan tanpa suara alarm listrik kamar sebelah yang berbunyi nyaring karena ditinggal sang tuan rumah yang sedang piknik ke luar kota.

Thursday, November 19, 2015

Musik Digital

Musik adalah media dimana gue bisa mengekspresikan apa yang gue lihat, raba dan rasakan. Ibaratnya, gue gak bisa hidup tanpa musik. Karena itulah, semenjak sekolah gue udah bikin band bareng teman-teman. Sayangnya, bikin band itu gak semudah apa yang kita harapkan. Sederhananya, dalam satu band, ada banyak kepala yang visi misinya harus melebur menjadi satu, dan itu susah-susah gampang. Karena seringnya perbedaan pendapat dan seiring bertambahnya kesibukan masing-masing, akhirnya band gue bubar.

Selepas dari itu, gue mulai kebingungan untuk melepaskan hasrat bermusik yang menggebu-gebu. Pernah beberapa kali iseng bikin project dengan teman-teman yang lain, namun hasilnya juga sama, berakhir dengan kesibukan masing-masing personilnya.

Sampai pada tahun 2006, gue dikenalkan dengan sebuah software untuk produksi musik secara digital. Awalnya gue sangat kesulitan untuk menggunakannya. Namun setelah baca-baca dan nonton video tutorial dari internet, sedikit banyak gue mulai bisa beradaptasi untuk menggunakannya. Semakin hari, gue semakin antusias untuk bikin musik. Ditambah lagi, gue memiliki banyak teman baru antar sesama produser, artist, label dalam dunia musik digital ini, dan yang paling menyenangkan adalah sampai saat ini kami masih terus berkomunikasi dengan baik.



Internet dan musik digital itu satu paket yang gak bisa dipisahkan. Dalam proses kreatif gue gak bisa lepas dari yang namanya internet. Gue selalu streaming musik atau video dulu untuk mancing ide. Setelah itu gue meramu nada demi nada sehingga menjadi satu kesatuan dalam bentuk sebuah musik. Setelah musik selesai di produce, gue mendistribusikan karya-karya gue dengan konsep free download melalui netlabel, baik lokal maupun internasional. Jadi semua orang bisa menikmati dan mengapresiasi karya gue.

Wednesday, October 14, 2015

Outing Ke Dufan


Selain gajian, waktu yang ditunggu-tunggu gue dan teman-teman yang lain kantor adalah kegiatan outing. Umumnya, kegiatan ini diadakan satu tahun sekali. Tujuan dari outing ini adalah untuk melepaskan stres dari pekerjaan yang bergumul dengan kita sehari-hari.

Beberapa waktu yang lalu, biar sama kaya perusahaan-perusahaan lainnya, kantor gue melaksanakan kegiatan outing ke Dufan. Emang sih, agak janggal, cuma mau gimana lagi. Kenapa gue bilang janggal, karena biasanya kantor-kantor lain outing pada piknik ke pantai, luar kota, bahkan luar negeri, lah ini malah ke Dufan. Tapi gak apa, yang penting kan maksud dari kegiatan ini untuk melepas beban dari pekerjaan serta menjalin kedekatan antar karyawan, dan yang paling penting adalah, ini gratisan! Hahaha.

Pada hari H, kita semua kumpul di kantor jam 8 pagi. Setelah melakukan prepare segala macem, kita jalan jam 10. Karena malemnya kurang tidur, selama perjalanan gue cuma bisa tidur aja di mobil. Pas kebangun, tau-tau udah di parkiran.

Turun dari mobil pada heboh persis kaya anak SD lagi study tour. Ada yang nyanyi-nyanyi, ada yang poto-poto, ada yang langsung bikin sajak; “Pada titik keramaian aku bersaksi, kesunyian ini masih saja menggerogoti relung hati yang tak kunjung terisi.”

Saturday, August 15, 2015

Tentang Freelancer

Hidup di Jakarta, kita harus pinter-pinter cari peluang untuk menghasilkan uang. Menurut gue, walaupun sudah bekerja dan punya penghasilan tetap, namun wajib hukumnya untuk tetap mencari penghasilan tambahan diluar jam kerja utama.

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan uang tambahan. Salah satunya dengan menjadi freelancer. Jaman sekarang, beragam pilihan pekerjaan lepasan juga sangat banyak bertebaran di internet. Mulai dari menulis artikel, akunting sampai dengan analis juga ada. Nah, tinggal tentuin mana yang paling cocok dan mau kita ambil. Ya intinya sih, jangan malas untuk cari informasi.

Gue sendiri, nyari uang tambahan dengan cara apapun. Sekiranya ada peluang, ya gue ambil. Tentunya dengan cara yang halal. Dari reseller pakaian, calo vendor, sampai jasa iklan pun gue ambil. Yang paling sering sih, bikin design untuk kebutuhan online shop seperti; desain logo, desain flyer, desain stiker, desain packaging, dll. Jadi, kalau diantara kalian ada yang punya online shop dan sedang butuh desain atau mau nyetak apapun, bisa kontak gue. Lah.. Ini kenapa jadi iklan terselubung begini, yak?! Tapi gak apa, sambil menyelam pakai pelampung.

Saturday, May 30, 2015

Kemeriahan Pesta Ulang Tahun Rolling Stone Indonesia

Dua minggu yang lalu, di timeline Twitter gue berseliweran e-flyer perayaan ulang tahun majalah Rolling Stone Indonesia yang ke-sepuluh. Dari barisan line up yang akan memeriahkan acara tersebut, hanya Dubyouth Soundsystem yang berhasil merebut perhatian gue. Setau gue, Dubyouth Soundsystem adalah grup/duo electronic/dub/reggae yang lumayan jarang tampil live namun tetap memiliki penggemar yang tentunya tidak sedikit dan tergabung dalam basis Paguyuban Dabyut. Terakhir gue nonton mereka itu pada bulan September 2014 saat mereka menggelar rangkaian tur di Jakarta selama dua hari berturut-turut. Yang pertama di Maitrin Lounge, lalu keesokan harinya berakhir di Beer Garden SCBD. Saat itu, gue hanya sanggup hadir di rangkaian yang pertama dikarenakan masih terlalu hangover untuk melanjutkan sesi ke-dua di Beer Garden SCBD.

Balik lagi ke gelaran Rolling Stone Indonesia #RSINA10. Gue tiba di venue, Rolling Stone Cafe Jakarta, sekitar pukul 20:00 WIB. Jalanan di sekitar lokasi, cenderung tidak bergerak sama sekali. Padahal memang jalanan kan gak bisa bergerak, kalo jalanan bisa gerak-gerak, serem, nanti mobil-mobil pada jatoh. Enggak, ini serius. Arus lalu lintas dari Ampera menuju Kemang & sebaliknya, mengular dan cenderung gak gerak sama sekali. Gue berpikir bahwa ini adalah konspirasi antara "baru gajian" bertemu dengan "weekend". Namun kemacetan yang begitu menggila ini tak digubris oleh sekelompok pemuda di seberang jalan yang sedang asyik menikmati minuman dalam kresek hitam lengkap dengan tiga buah sedotan yang menyembul keluar sebelum akhirnya mereka berjalan gontai masuk ke dalam acara.

Friday, May 15, 2015

Teruntuk Sahabatku

Beberapa hari lagi, salah seorang sahabat gue berulang tahun. Selama sepuluh tahun terakhir, kita (gue dan beberapa sahabat lainnya) selalu merayakan pesta ulang tahun bersama-sama. Namun, nampaknya pada tahun ini gue harus absen karena kebetulan sedang stay di Bali sedangkan mereka di Jakarta.

Walau belum ada obrolan dengan teman-teman yang lain mengenai konsep acara, surprise dll, sejujurnya sejak seminggu belakangan gue sudah cukup galau untuk memikirkan hal ini.

Saat ini, menurut gue pilihannya hanya ada dua; 1) Gue balik ke Jakarta, atau, 2) Mereka semua berangkat ke Bali. Sebenernya agak bingung juga sih dengan pilihan tadi. Selain lagi bokek untuk beli tiket, karena gue juga sedang ada proyek yang gak bisa ditinggal, lalu teman-teman yang lain juga pasti gak akan bisa kesini karena hari H-nya adalah weekdays, dimana mereka semua pasti masuk kerja. Selain ini, gue sama sekali belum memiliki ide lain.

Sementara itu, perasaan berkecamuk mulai menyelimuti diri gue. Gue yakin banget, sahabat gue ini pasti sedih banget kalo gue berhalangan hadir di acaranya. Tapi, harusnya yang lebih sedih itu sih gue, karena gue gak bisa makan gratis sepuasnya. Hahaha..

Friday, May 8, 2015

Ngidam Cabe-Cabean

Courtesy: Google
Momen yang paling berbahagia setelah menikah adalah memiliki anak. Dengan memiliki anak, dapat terlihat bahwa seorang pria itu sejati atau tidak. Berhubung sampai saat ini gue belum memiliki anak --bukan karena gue bukan pria sejati, karena memang gue dan istri bersepakat untuk menunda-- maka gue masih punya banyak waktu untuk belajar tentang info-info seputar kehamilan.

Dan, entah mengapa mesin pencari yang gue gunakan berhenti pada keyword; ngidam.

Situs demi situs gue buka, halaman demi halaman gue baca, sampai akhirnya tak ada satupun yang gue pahami. Maka dari itu, terbesitlah ide untuk menulis postingan ini.

Ehem..

Dari yang gue baca, penyebab ngidam dikarenakan meningkatnya kadar hormon kehamilan yang bernama hurman Chorionic Gonadotropin (hCG) dan prodestron. Ngerti, gak? Gue sih, enggak. Namun yang pasti, konon katanya ngidam pasti akan melanda sebagian besar ibu-ibu yang sedang hamil.

Tipe ngidam untuk masing-masing orang berbeda. Ada yang ingin mengonsumsi makanan/minuman yang aneh-aneh, ada juga yang ingin melakukan hal-hal yang absurd. Yang paling umum adalah hasrat untuk mengonsumsi yang rasanya asam; air perasan handuk mandor, misalnya.

Friday, May 1, 2015

Tentang Flappy Bird & Percintaan

Courtesy: Google
Kurang lebih satu tahun yang lalu, dunia dihebohkan dengan game Flappy Bird. Game simpel dengan karakter burung kecil yang mencoba terbang untuk melewati rintangan pipa air sampai entah kapan dan dimana rintangannya berujung.

Sebagai manusia yang tak ingin ketinggalan zaman, gue pun masuk ke dalam circle manusia yang-smartphonenya-ada-Flappy Bird.

Awalnya, gue sangat menikmati permainan ini. Karena menurut gue --sebagai orang yang bukan maniak game alias orang yang benci dengan game-game ribet-- Flappy Bird ini adalah game yang amat super duper mudah. Cuma tinggal nge-tap, si burung lompat-lompat (atau mungkin lebih tepatnya terbang) berusaha untuk mengindari rintangan yang ada. Gak perlu mikir susah-susah, gak perlu pake strategi. Dapet high score baru; syukur, gak dapet; ya bodo amat. Toh kalo gue mati nanti juga gak akan ditanya sama malaikat, "Berapa skor Flappy Bird tertinggi kamu?"

Friday, March 20, 2015

Postingan Dari Dalam Kedai Es Krim

Sudah lama tak menulis.

Entah mengapa, tetiba aku kembali merindu untuk menulis. Mungkin karena hujan yang turun pada petang di tanggal tua ini. Apapun alasannya, aku rindu mendengar deru keyboard laptop ini saling bersahutan merangkai huruf demi huruf, kata demi kata, juga kalimat demi kalimat.

Lama tak bersuara dalam tulisan, membuat jemari ini terasa kaku. Ya, kaku, seperti bertemu mantan pacar di acara pesta kebun seorang sahabat. Terbata ketika menyapa, serba salah seperti lagu Raisa.

Sembari jemari ini bergeliat menyisir alphabet yang tertata rapih namun berantakan, terdengar lantunan musik dari Gugun & The Blues Shelter. Ah, sayangnya aku tak tau apa judul lagunya. Yang pasti, suasana ini menjadi hangat seiring bergulirnya bulir hujan yang masih turun dengan bergerombol.

Tuesday, December 9, 2014

Fase Bagian Pertama

Persoalan pertama ketika kita baru lulus adalah; "Kira-kira gue bisa ngumpul untuk seru-seruan bareng temen-temen sekolah lagi gak, ya?"

Setahun dua tahun, mungkin bisa. Lebih dari itu, sulit. Apalagi, semakin lo bertambah dewasa, semakin sulit pula lo akan seru-seruan bareng. Permasalahannya adalah bukan kita, dia atau mereka sombong. Tapi, karena masing-masing dari kita akan memiliki kesibukannya sendiri-sendiri.

Mungkin lo pernah mengalami hal ketika temen-temen lo ngajak nongkrong, tapi lo berhalangan untuk ikut hadir karena memang jadwal shift kerja lo belum selesai. Pada minggu depannya, giliran lo yang mencoba untuk mengkordinir temen-temen untuk nongkrong, tapi teman-teman lo berhalangan karena sedang ada acara lainnya. Sekalinya bisa hadir, cuma beberapa orang saja.

Sedih? Pasti.

Kita semua pasti pernah mengalami fase seperti ini. Percayalah.

Monday, February 4, 2013

Perbedaan Pasti Selalu Ada


JAWABAN yang paling aman ketika ditanya kenapa kisah cinta kita kandas ditengah jalan adalah, “beda prinsip”. Kata “beda prinsip” adalah kata mati. Ga mungkin ada lagi yang nanya, “Kenapa bisa beda prinsip?” Kalau emang masih ada yang bertanya seperti itu, jawab aja, “Bukan urusan lo!” Selesai.

“Beda prinsip” juga bukan sekedar jawaban mematikan dari pasangan yang baru putus cinta. “Beda prinsip” juga bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Di postingan kali ini gue bakal ngebahas perbedaan prinsip dari kamar mandi.

Tuesday, January 15, 2013

Tawar Menawar Cewek-Cewek


Baru-baru ini gue menemukan dua fakta menarik seputar perempuan. Pertama, selain menstruasi, tanda-tanda seorang perempuan sudah memasuki fase dewasa adalah munculnya naluri tawar menawar harga secara alami, dan yang kedua, ada sebuah peraturan yang nggak tertulis untuk menjadi perempuan sejati, yaitu: harus bisa nawar harga sampai titik terendah. Lalu, perempuan yang bisa dapetin barang dengan harga serendah mungkin, maka ia makin disegani oleh perempuan-perempuan lainnya.

Bayangkan kalau budaya harakiri diaplikasikan ke dalam proses tawar menawar ini. Bila seorang perempuan gagal untuk menawar harga barang semurah mungkin, maka perempuan itu harus melakukan harakiri karena sudah dianggap mempermalukan diri sendiri. 

Seorang perempuan, sanggup ‘tawaf’ di sebuah pertokoan selama berjam-jam demi mendapatkan barang yang dia inginkan dengan syarat mutlak semurah mungkin. Mereka sanggup bergerak keluar masuk puluhan toko dalam satu hari. Misalnya, masuk toko pertama di lantai satu harganya Rp. 30.000, masuk toko kedua di lantai dua harganya Rp. 40.000, masuk toko ketiga di lantai lima harganya Rp. 32.000. Mereka lebih milih turun tangga dari lantai lima ke lantai dasar dan beli di toko pertama. Padahal selisihnya cuma dua ribu rupiah… DUA RIBU RUPIAH. Kalo udah kaya begini, cowoknya cuma bisa pasrah ngikutin dari belakang. Ngikutin dari belakang sambil bawain belanjaan yang segede gunung.

Monday, January 7, 2013

Makan Bareng Keluarga


Gue rasa, fenomena makan bareng bersama keluarga (Ayah, Ibu, Kakak dan Adik) di meja makan cuma ada di sinetron doang. Di sinetron, biasanya ada adegan satu keluarga lagi makan bareng di meja makan dengan berbagai lauk pauk serta piringnya yang gede-gede dan gelasnya yang juga ga kalah gede. Tapi mereka ga punya magic jar. Nasinya selalu ngambil dari semacam baskom yang terbuat dari beling. Apalah arti lauk pauk tanpa nasi yang masih hangat.

Gue pribadi, ga pernah makan bareng keluarga di meja makan. Sekalinya makan bareng, duduknya mencar-mencar. Bokap di meja makan, nyokap di ruang tamu, adek gue di depan TV, dan gue di atas kasur. Walaupun makannya mencar-mencar, tapi ngambil nasinya di satu tempat, magic jar. Dan nasinya masih hangat. Aduhai nikmat sekali.

Gue adalah tipe orang yang mau makan apa aja dan dimana aja, ya ayo. Artinya, gue bukan orang yang suka milih-milih tempat makan. Tempatnya harus inilah, harus itulah, ribet amat. Untuk menu makanan pun gue ga macem-macem, kok, minimal ada nasi goreng dan es teh manis juga gue udah anteng. Apalagi kalau ada colokan listrik lengkap dengan WiFi.

Wednesday, December 19, 2012

Ngeband, Ga Beda Jauh Sama Pacaran!

♫ Cumaaaaa kamoooooooh... ♫

Ngeband, ga beda jauh sama pacaran. Sebelum jadian, ada beberapa tahapan dulu: 1) Pendekatan -- ke orang yang mau dijadikan personil, 2) Tembak -- ajak gabung di band kalo sesuai kriteria, 3) Jalanin semuanya bareng-bareng, baik suka maupun duka -- kalau diterima. Kalau ditolak, cari mangsa yang lain.

Ngeband, ga beda jauh sama pacaran. Dalam perjalanannya, kita harus bisa saling menghargai satu sama lain. Kita harus saling mengerti perasaan satu sama lain. Kita bisa saja merasa jenuh di tengah perjalanan yang kemudian mengambil langkah untuk vakum. Persis seperti sepasang kekasih yang sedang break untuk sekedar mengintrospeksi diri masing-masing.

Selingkuh, ga cuma ada di pacaran doang. Di band juga banyak terjadi fenomena perselingkuhan. Kalo dia merasa udah ga nyaman sama bandnya, dia bakal nyari ‘pengganti’ yang bisa bikin dia (lebih) nyaman. Atau, ternyata diluar sana banyak band yang udah suka sama dia dari lama. Kemudian, mereka masuk pada saat yang tepat. Mereka masuk tepat disaat dia sedang butuh teman baru. Teman yang siap mendengar segala keluh kesahnya selama ini. Keluh kesah yang ga mungkin ia ceritakan bersama orang yang lama. Mereka mulai masuk untuk menghibur. Mereka mulai masuk untuk menjadi pendengar yang baik. Mereka mulai masuk untuk membuat dia nyaman.

Wednesday, December 5, 2012

Lima Desember


6 Desember 2005
“Ayo, pulang. Udah mau hujan, nanti kita kehujanan.” Nyokap merangkul pundak gue sambil tersenyum.
“Tapi Ibu kasian sendirian disini.” Air mata pun kembali jatuh di pipi gue.
Orang-orang yang tadinya berkumpul di makam Ibu perlahan mulai mengurai. Terlihat beberapa anak kecil yang bekerja sebagai pembersih makam sedang bernegosiasi dengan pelayat. Pedagang kembang mulai membereskan dagangannya bersiap untuk pulang. Dan awan semakin menghitam.
Dalam perjalanan pulang, bokap berusaha menghibur, “Udah ya, jangan sedih lagi. Sekarang kita makan dulu, sebelum pulang.”
“Mau makan dimana, kita?” Sambung nyokap.
Gue ga bergeming. Perlahan, komplek pemakaman mulai hilang dari pandangan mata.


Tuesday, December 4, 2012

Indomie dan "Maaf, Anda Belum Beruntung!"


Banyak banget pilihan rasanya...

Mungkin, salah satu warga Indonesia yang sudah menganggap Indomie sebagai makanan pokok selain nasi adalah gue. Indomie sudah gue anggap lebih dari sekedar makanan. Indomie sudah gue anggap sebagai keluarga gue sendiri. Indomie selalu ada disamping gue disaat senang ataupun sedih dan gue selalu ada buat dia hanya disaat bokek.

Indomie itu fleksibel. Bisa dimakan dengan cara dimasak terlebih dahulu maupun tanpa dimasak.

Cara makan Indomie dengan dimasak : Rebus air dalam panci – masukkan mie – siapkan bumbu di mangkok – angkat mie ketika sudah lembek.

Cara makan Indomie tanpa dimasak : Remek mie – buka bungkusnya – taburi bumbu secukupnya (jangan terlalu banyak, nanti keasinan) – kocok bungkusnya – kunyah sampai habis.

Monday, December 3, 2012

Menang - Kalah Dalam Sepakbola Itu (Tidak) Sama


Sumber gambar : Google

Para pecinta sepakbola pasti sering menyebut kata-kata, “Menang kalah dalam suatu pertandingan sepakbola itu sama saja.” Mungkin kalimat tadi ada benarnya juga. Dulu, gue juga sering ngomong kaya gitu ke teman-teman. Apalagi kalo abis taruhan bola dan tim jagoan gue menang. Sebenarnya, memang agak tipis perbedaan antara berkata bijak dan sedikit ngeledek.

Tapi seiring bertambah dewasanya gue, rasanya kalimat, “Menang ataupun kalah dalam suatu pertandingan sepakbola itu sama saja” juga udah berubah jadi, “Menang ataupun kalah dalam suatu pertandingan sepakbola itu (tidak) sama.” Apalagi kalo kita taruhan bola – kalah – harus utang sana sini – buat – bayar.

Sejujurnya gue ga terlalu suka dengan sepakbola. Jadi gue ga pernah taruhan bola. Gimana mau taruhan kalo gue ga punya tim jagoan dan ga ngerti mana tim yang jago dan mana yang ga jago. Seandainyapun gue suka dengan sepakbola, gue ga mau taruhan. Karena taruhan itu dosa dan dilarang oleh Allah SWT. Kecuali kalo udah pasti menang, mungkin dosanya akan dikurangin sedikit. Mungkin lho, ya. Berarti belum pasti.

Friday, November 30, 2012

Menjadi Seorang Teman


Punya teman nongkrong yang sekaligus teman kerja itu asik banget. Pada saat jam kerja, kita menjadi partner kerja dan pada saat diluar jam kerja, kita bisa gila-gilaan bareng. Rasanya pasti seru. Meeting kerjaan bareng, makan siang bareng, karaokean bareng, cuma mandi yang harus sendiri-sendiri. Lalu sebagian orang beruntung seperti mereka itu akan memberi nama ‘Partner In Crime’ di folder foto mereka.

Sayangnya, ga semua teman bisa seperti itu. Bisa menjadi teman nongkrong yang asik dan bisa menjadi rekan kerja yang baik. Teman yang asik buat diajak seru-seruan bareng dan teman yang selalu menyemangati dikala kita baru saja kena semprot si bos. 

Teman berbeda dengan sahabat. Menurut teori sepertemanan gue, teman itu dibagi dua : 1) Teman main, 2) Teman kerja, 3) Teman mesra banget.

Thursday, November 22, 2012

One Stop Entertainment di Jembatan Penyeberangan


Kemarin sore, gue sempet liat berita yang ngebahas peninggian separator busway jadi 50 cm. Alasannya, untuk ngurangin angka kecelakaan di jalur busway.

Ekspektasi : Ga ada lagi masyarakat yang nyeberang di jalur busway karena separator setinggi 50 cm akan menyulitkan mereka sehingga mereka akan menyeberang dengan menggunakan jembatan penyeberangan.

Kenyataan : Masih banyak masyarakat yang mengangkangi separator busway.

Dirombaknya separator busway menjadi setengah meter, belum mampu untuk merubah kebiasaan masyarakat yang hobi nyeberang melewati jalur busway.