Tuesday, July 1, 2014

Rumahku Istanaku

SETELAH menikah pada awal Desember 2013 yang lalu, kita --gue dan Runny, istri gue-- telah bersepakat untuk tinggal sendiri. Yang artinya, masing-masing dari kami "keluar" dari rumah orang tua kami.

Rencana ini memang sudah jauh-jauh kita obrolin sebelum pernikahan. Tapi, karena kebetulan semua urusan pernikahan kita sendiri yang menangani semuanya, sampai perkara pindahan rumah gak kepegang oleh kita dan hampir kelupaan bahwa setelah pernikahan, kita harus pindahan.

Singkatnya, tiga hari setelah menikah, kita menempati sebuah rumah kontrakan petak yang terdiri dari 3 sekat; ruang tamu, ruang tengah, dan ruang dapur+kamar mandi. Tadinya sih mau nyari rumah yang tingkat 4, kamar tidurnya ada 12, kamar mandinya ada 9, ada lifnya, ada lapangan futsal, ada shuttle bus untuk transportasi dari ruang TV ke kamar, ada gardu listrik pribadi. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, gue urungkan niat tersebut. Karena percuma, rumah segede gitu hanya diisi gue berdua. Pertanyaannya; siapa yang mau nyapuin itu rumah tiap pagi?