Wednesday, December 31, 2014

Yakinkah? Yakin!

Dua minggu yang lalu, brand online shop gue bersama istri tercinta genap berusia satu tahun.

Usia satu tahun masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan brand-brand diluar sana yang mungkin usianya sudah belasan, puluhan atau bahkan ratusan tahun.

Oya, mungkin banyak diantara teman-teman yang belum tau bidang apa usaha gue; jadi usaha yang sedang gue rintis setahun terakhir ini bergerak pada bidang wall decor dengan produknya sendiri adalah poster.

Sejujurnya, pada awal mula usaha ini dirintis adalah proyek iseng gue bersama istri untuk tambah-tambahan beli voucher listrik dan air kontrakan.

Tuesday, December 9, 2014

Fase Bagian Pertama

Persoalan pertama ketika kita baru lulus adalah; "Kira-kira gue bisa ngumpul untuk seru-seruan bareng temen-temen sekolah lagi gak, ya?"

Setahun dua tahun, mungkin bisa. Lebih dari itu, sulit. Apalagi, semakin lo bertambah dewasa, semakin sulit pula lo akan seru-seruan bareng. Permasalahannya adalah bukan kita, dia atau mereka sombong. Tapi, karena masing-masing dari kita akan memiliki kesibukannya sendiri-sendiri.

Mungkin lo pernah mengalami hal ketika temen-temen lo ngajak nongkrong, tapi lo berhalangan untuk ikut hadir karena memang jadwal shift kerja lo belum selesai. Pada minggu depannya, giliran lo yang mencoba untuk mengkordinir temen-temen untuk nongkrong, tapi teman-teman lo berhalangan karena sedang ada acara lainnya. Sekalinya bisa hadir, cuma beberapa orang saja.

Sedih? Pasti.

Kita semua pasti pernah mengalami fase seperti ini. Percayalah.

Tuesday, July 1, 2014

Rumahku Istanaku

SETELAH menikah pada awal Desember 2013 yang lalu, kita --gue dan Runny, istri gue-- telah bersepakat untuk tinggal sendiri. Yang artinya, masing-masing dari kami "keluar" dari rumah orang tua kami.

Rencana ini memang sudah jauh-jauh kita obrolin sebelum pernikahan. Tapi, karena kebetulan semua urusan pernikahan kita sendiri yang menangani semuanya, sampai perkara pindahan rumah gak kepegang oleh kita dan hampir kelupaan bahwa setelah pernikahan, kita harus pindahan.

Singkatnya, tiga hari setelah menikah, kita menempati sebuah rumah kontrakan petak yang terdiri dari 3 sekat; ruang tamu, ruang tengah, dan ruang dapur+kamar mandi. Tadinya sih mau nyari rumah yang tingkat 4, kamar tidurnya ada 12, kamar mandinya ada 9, ada lifnya, ada lapangan futsal, ada shuttle bus untuk transportasi dari ruang TV ke kamar, ada gardu listrik pribadi. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, gue urungkan niat tersebut. Karena percuma, rumah segede gitu hanya diisi gue berdua. Pertanyaannya; siapa yang mau nyapuin itu rumah tiap pagi?