Saturday, April 15, 2017

Satu Tahun Yang Lalu

Terakhir gue nulis di blog ini, hampir setahun yang lalu. Ini gila sih, menurut gue.

Kadang emang gue ngerasa kangen banget buat nulis, main musik atau bikin sesuatu lagi kaya yang dulu-dulu. Padahal tiap harinya ada banyak banget hal yang bikin gue resah dan bisa jadi materi buat gue nulis. Tapi entah kenapa, gue males banget buat mulainya.

Males?! Iya, males! Karena memang itu alesannya. Bukan karena sok sibuk atau gimana, karena ya memang males. Udah gitu aja.

Padahal kegiatan gue juga emang lagi gak sibuk-sibuk banget kaya tahun-tahun sebelumnya. Harusnya gue punya banyak waktu buat ngerjain sesuatu, entah nulis atau bikin sesuatu lainnya yang seru baik sendiri maupun kolektif.

Kegiatan gue belakangan ini paling ya standar aja gitu sibuknya. Kerja pagi pulang sore — kadang pulang malem biar sekalian makan di luar dan atau memang lagi ada jadwal ketemuan sama klien diluar kerjaan asli gue. Pulang, masuk kamar langsung baca-baca forum sambil Twitteran plus Spotify-an atau nonton Youtube sambil ketiduran. Bangun pagi, begitu terus setiap harinya.

Friday, May 20, 2016

Cinta Bersemi di Ruang Gelap

Di tengah hiruk pikuknya kota metropolitan dengan segudang aktifitasnya, kita perlu asupan hiburan yang seimbang agar kehidupan tetap stabil. Film adalah salah satu bentuk hiburan yang paling sederhana. Tak perlu berburu tiket promo, apalagi repot-repot Twitpict gambar bagpack lengkap dengan caption, "Packing!"

Jaman sekarang, film bisa dinikmati kapan saja dan dimanapun. Secara tukang kaset DVD bajakan sudah merajalela bak pedagang tahu bulat. Udah ada kaset DVD bajakan tapi males buat beli karena sayang uangnya buat bayar kostan, di internet juga udah banyak banget website yang nyediain link untuk download film. Kalau download aja masih males, streaming juga bisa kok. Nah, kalo streaming masih males juga, nyungsep aja bareng temen lo yang suka berenang di pantai pake celana jeans panjang.

Tapi, menurut gue pribadi, nonton film yang paling syahdu itu ya di bioskop. Karena lo bakal ngerasain esensi menonton film dengan seutuhnya di sana. Selain layarnya yang besar, audionya pun bakal ngemanjain kuping. Tanpa ada kepulan asap rokok, abu rokok yang berserakan di karpet dan tanpa suara alarm listrik kamar sebelah yang berbunyi nyaring karena ditinggal sang tuan rumah yang sedang piknik ke luar kota.

Thursday, November 19, 2015

Musik Digital

Musik adalah media dimana gue bisa mengekspresikan apa yang gue lihat, raba dan rasakan. Ibaratnya, gue gak bisa hidup tanpa musik. Karena itulah, semenjak sekolah gue udah bikin band bareng teman-teman. Sayangnya, bikin band itu gak semudah apa yang kita harapkan. Sederhananya, dalam satu band, ada banyak kepala yang visi misinya harus melebur menjadi satu, dan itu susah-susah gampang. Karena seringnya perbedaan pendapat dan seiring bertambahnya kesibukan masing-masing, akhirnya band gue bubar.

Selepas dari itu, gue mulai kebingungan untuk melepaskan hasrat bermusik yang menggebu-gebu. Pernah beberapa kali iseng bikin project dengan teman-teman yang lain, namun hasilnya juga sama, berakhir dengan kesibukan masing-masing personilnya.

Sampai pada tahun 2006, gue dikenalkan dengan sebuah software untuk produksi musik secara digital. Awalnya gue sangat kesulitan untuk menggunakannya. Namun setelah baca-baca dan nonton video tutorial dari internet, sedikit banyak gue mulai bisa beradaptasi untuk menggunakannya. Semakin hari, gue semakin antusias untuk bikin musik. Ditambah lagi, gue memiliki banyak teman baru antar sesama produser, artist, label dalam dunia musik digital ini, dan yang paling menyenangkan adalah sampai saat ini kami masih terus berkomunikasi dengan baik.



Internet dan musik digital itu satu paket yang gak bisa dipisahkan. Dalam proses kreatif gue gak bisa lepas dari yang namanya internet. Gue selalu streaming musik atau video dulu untuk mancing ide. Setelah itu gue meramu nada demi nada sehingga menjadi satu kesatuan dalam bentuk sebuah musik. Setelah musik selesai di produce, gue mendistribusikan karya-karya gue dengan konsep free download melalui netlabel, baik lokal maupun internasional. Jadi semua orang bisa menikmati dan mengapresiasi karya gue.

Wednesday, October 14, 2015

Outing Ke Dufan


Selain gajian, waktu yang ditunggu-tunggu gue dan teman-teman yang lain kantor adalah kegiatan outing. Umumnya, kegiatan ini diadakan satu tahun sekali. Tujuan dari outing ini adalah untuk melepaskan stres dari pekerjaan yang bergumul dengan kita sehari-hari.

Beberapa waktu yang lalu, biar sama kaya perusahaan-perusahaan lainnya, kantor gue melaksanakan kegiatan outing ke Dufan. Emang sih, agak janggal, cuma mau gimana lagi. Kenapa gue bilang janggal, karena biasanya kantor-kantor lain outing pada piknik ke pantai, luar kota, bahkan luar negeri, lah ini malah ke Dufan. Tapi gak apa, yang penting kan maksud dari kegiatan ini untuk melepas beban dari pekerjaan serta menjalin kedekatan antar karyawan, dan yang paling penting adalah, ini gratisan! Hahaha.

Pada hari H, kita semua kumpul di kantor jam 8 pagi. Setelah melakukan prepare segala macem, kita jalan jam 10. Karena malemnya kurang tidur, selama perjalanan gue cuma bisa tidur aja di mobil. Pas kebangun, tau-tau udah di parkiran.

Turun dari mobil pada heboh persis kaya anak SD lagi study tour. Ada yang nyanyi-nyanyi, ada yang poto-poto, ada yang langsung bikin sajak; “Pada titik keramaian aku bersaksi, kesunyian ini masih saja menggerogoti relung hati yang tak kunjung terisi.”

Saturday, October 10, 2015

Ke Bali Lagi, Yuk!

Nusa Dua - Bali
 
Mungkin bukan hanya gue yang berpendapat kalau Bali itu memiliki daya magis yang sangat luar biasa sehingga mampu menarik kita untuk kembali dan kembali lagi kesana.

Entah mengapa, ketika pikiran sedang mumet dan butuh ruang untuk piknik, ombak dan pasir pantai Kuta dkk seolah berbisik, “Cuy, kapan lagi nih balik kesini, emang gak kangen?” Kalau udah begini, gue cuma bisa pasrah. Pasrah buat ninggalin ibukota demi memenuhi hasrat untuk bercumbu dengan pulau yang sangat eksotis ini.

Terakhir gue ke Bali itu tiga bulan yang lalu naik kereta. Iya, naik kereta. Emang niat banget sih kemarin pikniknya. Buat yang hobi banget traveling, lo harus nyobain ke Bali naik kereta. Emang sih selisih waktu yang dihabiskan cukup jauh antara naik pesawat dan naik kereta. Kalau pesawat, cuma duduk bentar tau-tau udah sampe di Bali. Kalau naik kereta, duduk – tidur – bangun – duduk lagi – tidur lagi – ngulang lagi sampai 10x gak kelar-kelar. Kurang lebih, waktu yang dihabiskan itu adalah 30 jam, dengan asumsi 8 jam pertama kereta dari Jakarta ke Yogya, 15 jam kereta dari Yogya ke Banyuwangi, 1 jam kapal dari pelabuhan Ketapang ke pelabuhan Gilimanuk dan 5-6 jam naik bis dari pelabuhan Gilimanuk ke Denpasar.